Pendidikan, Obor Kemerdekaan di Usia 80 Tahun Republik Indonesia

oleh -350 Dilihat
oleh

Oleh: M. Rizal Rahman
Pimpinan Redaksi Majalah Suara Pendidikan –Pemerhati Pendidikan Makassar

Makassar- Suara Pendidikan.Id

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka adalah sebuah pencapaian sejarah yang patut kita rayakan dengan penuh syukur. Namun, di balik gegap gempita peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh seluruh anak bangsa melalui pendidikan?

Para pendiri bangsa kita meletakkan pendidikan sebagai cita-cita utama. Hal itu termaktub jelas dalam Pembukaan UUD 1945: “Mencerdaskan kehidupan bangsa.” Artinya, kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, melainkan juga bebas dari kebodohan, ketertinggalan, dan keterbelakangan.

Di usia 80 tahun Republik Indonesia, pendidikan harus ditempatkan sebagai obor kemerdekaan. Ia bukan sekadar sarana mencetak tenaga kerja, melainkan jalan membentuk manusia yang merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka menentukan masa depannya sendiri.

Sebagai seorang pendidik dan pengamat pendidikan di Makassar, saya menyaksikan secara langsung masih adanya jurang ketimpangan akses pendidikan antara kota dan pelosok, antara sekolah negeri dan swasta, antara mereka yang mampu dan yang kurang mampu.

Di satu sisi, kita bangga dengan inovasi kurikulum Merdeka Belajar yang membuka ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai bakat dan minat. Namun di sisi lain, kita tak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa masih banyak guru yang berjuang dengan keterbatasan sarana, gaji yang belum layak, hingga kurikulum yang kadang berubah terlalu cepat.

Sebagai bangsa yang sedang menapaki jalan menuju Indonesia Emas 2045, kita harus berani menempatkan pendidikan sebagai investasi terbesar. Negara boleh kaya akan sumber daya alam, tetapi tanpa pendidikan, kekayaan itu hanya akan habis tanpa jejak.

Harapan saya sebagai seorang pemerhati dunia pendidikan, kemerdekaan ke-80 ini menjadi momentum memperbaiki tiga hal penting:

1. Kesejahteraan guru, karena guru adalah ujung tombak pendidikan.

2. Pemerataan akses, agar anak-anak di pelosok Makassar hingga pelosok Nusantara memiliki kesempatan belajar yang sama.

3. Budaya riset dan inovasi, agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi pencipta di panggung dunia.

Kemerdekaan adalah amanah. Amanah itu kini berada di tangan generasi muda yang duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Tugas kita sebagai pendidik adalah memastikan obor itu tidak padam, melainkan terus menyala, menerangi jalan bangsa menuju masa depan.

Mari jadikan HUT RI ke-80 ini bukan sekadar seremoni, melainkan janji baru untuk menjadikan pendidikan sebagai ruh kemerdekaan yang sejati. (Red)

*Penulis adalah Pimpinan Redaksi Majalah Suara Pendidikan dan pemerhati pendidikan di Makassar*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *