Indonesia yang Tertakluk Tanpa Perang, Melalui Pujian dan Penuh Ketundukan

oleh -99 Dilihat
oleh

Jakarta- Suara pendidikan.

26 Februari 2026 .

Dalam opini kerasnya, Saiful Huda Ems mengungkapkan kekhawatirannya terkait kecenderungan Indonesia dipimpin oleh figur yang dianggap lemah dan terlalu mudah terpengaruh oleh kekuatan asing. Ia menyoroti bahwa untuk menaklukkan Indonesia, tidak diperlukan lagi konfrontasi militer yang besar, tetapi cukup dengan memanfaatkan pujian dan politik diplomasi yang menguntungkan pihak asing seperti Amerika dan Israel.

Menurutnya, taktik mengundang Presiden Prabowo Subianto ke forum internasional, memberikan pujian berlebihan, dan bersikap ramah justru akan membuat Indonesia berbalik menjadi negara yang tunduk dan rela di bawah pengaruh kekuatan dunia tersebut — termasuk dalam bentuk penyerahan dana besar, pengakuan terhadap kepentingan asing, serta mendukung kebijakan yang sifatnya merugikan bangsa sendiri.

Lebih jauh, Saiful menyoroti kekuatan Iran dalam menghadapi tekanan dan ancaman dari Amerika dan Israel. Ia mengagumi keberanian dan kepercayaan diri pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei, yang tetap kokoh dan tegas, serta mampu menunjukkan kekuatan militernya sekaligus membangun pengaruh global. Ia menyebut Iran sebagai contoh kekuatan leadership yang nyata dan berwibawa, berbeda dari Indonesia yang dinilainya lemah dan sering terombang-ambing.

Opini ini berujung pada pertanyaan mendalam: sampai kapan Indonesia akan terus dipimpin oleh pemimpin yang lemah dan terlalu banyak basa-basi, yang lebih suka dipuji dan dipermak oleh kekuatan asing? Saiful menegaskan bahwa Indonesia kini telah secara halus dan tanpa perang, namun sebenarnya telah kehilangan kedaulatan dan harga diri di tangan kekuatan besar, hanya karena “pijakan” politik dan pujian tanpa tindakan nyata.

Dengan tegas, Saiful mengajak bangsa Indonesia untuk berani mengambil sikap, keluar dari budaya ketundukan, dan berani bersuara untuk masa depan yang lebih bermartabat. Ia menyebut, sudah saatnya penempatan kewibawaan dan keberanian kembali tampil di lini depan, bukan sekadar ketundukan yang memalukan dan memprihatinkan.

Sapere aude! — Beranilah berpikir dan bertindak independen demi kejayaan bangsa Indonesia di masa depan.(Red)

Oleh: Saiful Huda.SH (SHE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *