Makassar- Suara Pendidikan.Id
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTK PG) kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna, ber kesadaran, dan menggembirakan. Semangat itu dituangkan dalam kebijakan terbaru berupa himbauan penangguhan mutasi guru dan kepala sekolah yang sedang mengikuti program pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding serta Kecerdasan Artifisial (KKA), Selasa (26/8/2025).
Dalam surat resmi bernomor 0864/Β/HK.07.00/2025, Direktur Jenderal GTK PG, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., menegaskan bahwa pelatihan yang berlangsung dengan pola IN-ON-IN selama tiga bulan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah di tengah tuntutan transformasi digital pendidikan.
“Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penuntun, pembimbing, dan penggerak. Agar bisa ‘memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang’ sebagaimana semboyan Tut Wuri Handayani, maka mereka perlu dibekali kompetensi baru yang relevan dengan era digital,” tegas Nunuk dalam suratnya
Melalui surat himbauan tersebut, pemerintah meminta agar seluruh kepala daerah menangguhkan sementara proses mutasi guru dan kepala sekolah yang tengah mengikuti pelatihan. Hal ini bertujuan agar mereka bisa fokus menyelesaikan program dan kembali ke sekolah dengan membawa perubahan nyata bagi peserta didik.
Selain itu, pemerintah juga menekankan agar dinas pendidikan di provinsi, kabupaten, dan kota turut aktif mengawasi serta memastikan para guru benar-benar mengikuti jadwal yang telah ditetapkan.
Kebijakan ini mendapatkan sambutan hangat dari orang tua dan masyarakat. Mereka melihat langkah ini sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam memperkuat peran guru sebagai pilar utama pendidikan.
“Saya sangat mendukung. Kalau guru diberi kesempatan belajar teknologi dan metode pembelajaran baru, otomatis anak-anak kita juga akan lebih siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Rina, salah satu wali murid di Jakarta.
Sementara itu, tokoh masyarakat di daerah turut memberikan apresiasi. Menurut mereka, program pelatihan ini adalah wujud nyata dari cita-cita Ki Hajar Dewantara, di mana pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga budi pekerti dan kemandirian.
Di tengah gempuran teknologi dan arus globalisasi, semboyan Tut Wuri Handayani kembali menemukan relevansinya. Guru diharapkan tetap menjadi teladan, bukan hanya dalam mengajarkan ilmu, tetapi juga dalam mendampingi anak-anak agar bijak menggunakan teknologi, memahami nilai-nilai kemanusiaan, serta siap berkompetisi di tingkat global.
Dengan adanya program pelatihan PM dan KKA, para pendidik tidak hanya akan mahir dalam strategi pembelajaran mendalam, tetapi juga memiliki kemampuan mengintegrasikan teknologi digital seperti pemrograman dan kecerdasan buatan dalam kelas.
Kebijakan penangguhan mutasi ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin menempatkan guru pada posisi strategis sebagai motor penggerak perubahan. Semangat Tut Wuri Handayani bukan hanya jargon sejarah, tetapi benar-benar dihidupkan kembali dalam kebijakan pendidikan yang berorientasi pada masa depan.
Kebijakan ini sekaligus menjadi wujud nyata dari filosofi “Tut Wuri Handayani”, salah satu ajaran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
Ki Hajar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, dikenal sebagai tokoh pejuang pendidikan yang menggagas sistem pendidikan berbasis kebangsaan. Melalui Taman Siswa, yang didirikannya pada 3 Juli 1922, beliau menanamkan nilai kebebasan belajar, kemandirian, serta keberpihakan kepada rakyat kecil yang kala itu sulit mengakses pendidikan.
Falsafah pendidikannya yang legendaris adalah:
– Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan),
– Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun semangat),
– Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).
Prinsip inilah yang kini dihidupkan kembali dalam berbagai kebijakan pendidikan nasional, termasuk pelatihan guru di era digital.
Kebijakan penangguhan mutasi ini bukan sekadar administrasi birokrasi, melainkan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan transformatif. Seperti halnya perjuangan Ki Hajar Dewantara yang mendobrak sekat kolonial demi membuka akses pendidikan untuk semua, kini guru dan kepala sekolah dipersiapkan menghadapi disrupsi teknologi yang menuntut kecerdasan baru.
Dengan semangat Tut Wuri Handayani, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga fasilitator, motivator, dan teladan bagi peserta didik untuk terus melangkah maju. (Red)
Editor: Syarif Al Dhin
Lewati ke konten
