Sang Guru Kula Berbagi Pengetahuan: Haruna Rasyid Ulas Jejak Kurikulum Pendidikan Indonesia

oleh -301 Dilihat
oleh

Makassar- Suara pendidikan.

Peran guru sebagai agen literasi publik kembali terlihat di ruang digital. Melalui akun media sosial Haruna Rasyid, seorang pendidik yang akrab disapa “Sang Guru Kula”, dibagikan pemaparan edukatif mengenai perjalanan kurikulum pendidikan Indonesia sejak masa kemerdekaan hingga era Kurikulum Merdeka, pada Jum’at, (26/12/ 2025).

Dalam unggahannya, Haruna Rasyid mengajak masyarakat untuk melihat perubahan kurikulum secara lebih jernih dan proporsional. Menurutnya, pergantian kurikulum yang kerap menjadi perdebatan publik sejatinya merupakan bagian dari proses panjang pembelajaran bangsa dalam membangun sistem pendidikan yang relevan dengan zamannya.

“Sejak Indonesia merdeka, kurikulum telah mengalami lebih dari sepuluh kali perubahan. Setiap kurikulum lahir dari konteks sosial, politik, dan kebutuhan generasi pada masanya,” ungkap Haruna Rasyid melalui akun media sosialnya.

Ia memaparkan bahwa Rentjana Pelajaran 1947 menjadi tonggak awal pendidikan nasional yang menekankan karakter dan semangat kebangsaan. Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai pendekatan, mulai dari tujuan instruksional, keaktifan peserta didik, hingga otonomi satuan pendidikan.

Lebih lanjut, Haruna Rasyid menyoroti hadirnya Kurikulum Merdeka sebagai upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis dan fleksibel. Kurikulum ini dinilai memberi ruang lebih luas bagi guru untuk berinovasi serta mendorong peserta didik belajar sesuai minat dan potensi masing-masing.

“Kurikulum bisa berubah, tetapi nilai pendidikan tidak boleh bergeser. Di sinilah peran guru menjadi penentu bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi menanamkan nilai dan membentuk karakter,” ungkapnya.

Unggahan tersebut mendapat respons positif dari warganet, khususnya kalangan guru dan pemerhati pendidikan. Banyak yang menilai pemaparan Haruna Rasyid sederhana namun bernas, serta membantu masyarakat memahami esensi perubahan kurikulum tanpa terjebak pada polemik administratif.

Pengamat pendidikan menilai, kontribusi guru melalui media sosial kini semakin penting sebagai ruang edukasi alternatif. Di tengah arus informasi yang cepat, kehadiran pendidik yang konsisten berbagi pengetahuan menjadi penyeimbang sekaligus penguat literasi publik.

Berikut nama-nama kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia sejak merdeka hingga sekarang, disusun kronologis dan ringkas:

1. Kurikulum 1947
Rentjana Pelajaran 1947
Fokus pada pembentukan watak, semangat kebangsaan, dan pendidikan karakter pasca-kemerdekaan.

2. Kurikulum 1952
Rentjana Pelajaran Terurai 1952
Materi pelajaran dirinci lebih jelas, guru mulai diarahkan mengajar sesuai mata pelajaran.

3. Kurikulum 1964
Rentjana Pendidikan 1964
Menekankan konsep Pancawardhana (pengembangan cipta, rasa, karsa, karya, dan moral).

4. Kurikulum 1968
Fokus pada pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan keterampilan.

5. Kurikulum 1975
Menggunakan pendekatan Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK).

6. Kurikulum 1984.
Dikenal dengan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), menekankan keaktifan siswa dalam proses belajar.

7. Kurikulum 1994.
Menggabungkan pendekatan kurikulum sebelumnya, dengan sistem caturwulan.

8. Kurikulum 2004
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Fokus pada pencapaian kompetensi siswa.
Kurikulum 2006.

9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Sekolah diberi kewenangan menyusun kurikulum sesuai kondisi dan kebutuhan lokal.

10. Kurikulum 2013 (K-13)
Menekankan penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara seimbang, berbasis karakter dan kompetensi.

11. Kurikulum Merdeka (2022 – sekarang)
Menekankan pembelajaran fleksibel, projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan diferensiasi sesuai kebutuhan siswa.
Ringkasan Singkat.

Sejak 1947 hingga kini, Indonesia telah menerapkan 11 kurikulum nasional utama.
Perubahan kurikulum menyesuaikan perkembangan zaman, kebutuhan peserta didik, dan arah kebijakan pendidikan nasional.

Pemaparan Sang Guru Kula melalui akun Haruna Rasyid ini menjadi pengingat bahwa guru tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga berperan aktif membangun kesadaran pendidikan di ruang digital demi masa depan generasi bangsa. (Red)

Editor: Syarif Al Dhin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *