Belajar Menulis Berita, Kuasai Rumus 5W+1H untuk Akurasi Informasi

oleh -1523 Dilihat
oleh

Oleh : Syarif Al Dhin

Palopo, SuaraPendikanID — Di tengah derasnya arus informasi digital, keterampilan menulis berita yang akurat dan terstruktur menjadi modal utama bagi setiap jurnalis. Hal ini yang mendorong Syarif Al Dhin, jurnalis muda dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), untuk membagikan tips menulis berita menggunakan metode klasik namun tetap relevan: 5W+1H.

Menurut Syarif, rumus 5W+1H adalah pedoman wajib yang tak lekang oleh waktu bagi para pewarta. Rumus ini merupakan singkatan dari enam kata tanya dalam bahasa Inggris: What, Who, When, Where, Why, dan How—yang dalam bahasa Indonesia berarti Apa, Siapa, Kapan, Di mana, Mengapa, dan Bagaimana.

“Kalau jurnalis bisa menjawab keenam pertanyaan itu secara jelas, maka pembaca akan mendapatkan gambaran peristiwa yang utuh tanpa perlu menebak-nebak,” ujar Syarif saat ditemui dalam sesi pelatihan jurnalistik PPWI, Rabu (13/8).

Berikut penjelasan Syarif mengenai tiap unsur 5W+1H:

1. What (Apa)
Menjelaskan inti peristiwa atau kejadian yang dilaporkan. “Pertama-tama, pembaca harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini fondasi berita,” katanya.

2. Who (Siapa)
Mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, baik individu, kelompok, maupun institusi. Unsur ini menjawab rasa penasaran publik tentang siapa yang menjadi pelaku, korban, atau narasumber.

3. When (Kapan)
Memberikan informasi waktu kejadian secara akurat, mulai dari tanggal, hari, hingga jam. “Berita yang tidak jelas waktunya membuat pembaca kebingungan,” tambahnya.

4. Where (Di mana)
Menginformasikan lokasi terjadinya peristiwa. Dalam jurnalistik, kejelasan tempat menjadi penting agar pembaca dapat membayangkan konteks kejadian.

5. Why (Mengapa)
Menyajikan alasan atau penyebab terjadinya peristiwa. “Tanpa ‘Why’, berita hanya menjadi laporan kering tanpa makna,” ujar Syarif.

6. How (Bagaimana)
Menggambarkan proses atau kronologi kejadian. Unsur ini sering menjadi bagian yang paling dinantikan pembaca karena menjawab pertanyaan: bagaimana semua itu bisa terjadi?

Syarif menekankan bahwa 5W+1H bukan hanya sekadar rumus, melainkan cara berpikir kritis bagi jurnalis. Dengan pola ini, setiap berita akan lebih berimbang, faktual, dan tidak meninggalkan celah spekulasi.

“Jurnalis adalah mata dan telinga masyarakat. Kalau kita menulis tanpa 5W+1H, sama saja kita membuat pembaca berjalan dalam gelap,” tegasnya.

Ada puluhan hingga ratusan anggota PPWI belajar dengan praktik langsung menulis berita berdasarkan 5W+1H. Para anggota terlihat antusias karena metode ini memudahkan mereka menyusun informasi, baik untuk media cetak, online, maupun siaran livestreaming.

Salah satu pewarta, Adi, mengaku mendapatkan wawasan baru dari metode ini. “Dulu saya sering bingung mulai dari mana menulis berita. Setelah belajar 5W+1H, saya jadi punya kerangka yang jelas,” ujarnya.

Penulis lainnya, Feri Fadli, menyebut bahwa metode ini membantunya terhindar dari berita yang bias. “Sekarang saya sadar, kalau satu saja dari 5W+1H terlewat, pembaca bisa salah paham. Ini penting untuk menjaga kredibilitas berita,” katanya.

Dengan menguasai 5W+1H, Syarif berharap jurnalis muda mampu menjadi garda terdepan dalam menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan publik. (Red)

_Penulis adalah Kuli Tinta Jurnalis Muda PPWI asal kota Palopo_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *