JENDERAL GEMBOS,

oleh -189 Dilihat
oleh

Oleh: Saiful Huda Ems.

Jakarta -Suara Pendidikan.

Dalam persepsi awal, rakyat Indonesia sangat mengidamkan figur pemimpin yang cerdas, kuat, dan tangguh—seperti Jokowi yang sering digambarkan sebagai sosok yang populer dan pencitraan yang kuat. Kemudian banyak yang memilih figur dari kalangan militer, seperti Prabowo Subianto, yang awalnya digadang-gadang sebagai sosok Macan Asia, pemberani dan tangguh.

Namun, sejauh ini, banyak harapan yang belum terpenuhi. Banyak aktivis dan pengamat menilai, yang terlihat justru sebaliknya. Dari sejarah Reformasi ’98 hingga kebijakan masa pemerintahan, Prabowo banyak disebutkan terlibat dalam berbagai tuduhan, termasuk penculikan aktivis dan dugaan pembunuhan kritikus Orde Baru. Kepercayaan terhadap figur ini pun mulai diragukan.

Setelah Pilpres 2024, Prabowo-Gibran terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029.

Sayangnya, apa yang terjadi kemudian justru menyentuh sisi yang mengecewakan. Rencana efisiensi tak berjalan, malah kabinet makin membesar dan anggaran semakin boros. Kajian terhadap program nasional pun turut dipertanyakan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut-sebut justru dijadikan celah mengeruk keuntungan bagi elit dan pengusaha, bahkan melibatkan institusi POLRI dan TNI secara tidak tepat.

Politik luar negeri Indonesia juga mengalami perubahan arah yang besar. Sebelumnya Indonesia beraspirasi menjadi negara Non Blok, justru beralih menjadi negara Go Blok. Dukungan terhadap Israel, serta keikutsertaan dalam Board of Peace (BOP) yang didirikan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, menunjukkan keberpihakan yang jauh dari prinsip perdamaian dan keadilan internasional. Dana besar yang dikeluarkan untuk keanggotaan BOP, mencapai Rp 17 triliun, pun menjadi tanda tanya: Apakah ini langkah yang benar?

Dalam sosial dan keamanan, kenyataan yang terjadi sangat jauh dari harapan. Tingginya angka kejahatan seperti penjambretan, pembegalan, dan pembunuhan, semakin memperlihatkan lemahnya aparat keamanan. Malah, banyak korban yang terbalik statusnya menjadi tersangka. Sistem pendidikan pun tak kalah memprihatinkan. Dana pendidikan yang sedianya gratis malah disedot untuk program yang tidak jelas manfaatnya. Gedung sekolah semakin buruk, gaji guru honor sangat rendah, dan tingkat IQ Indonesia pun menurun ke posisi 129 dunia.

Secara ekonomi, hutang nasional mencapai Rp9.600 triliun, sementara indeks persepsi korupsi memburuk dari 99 ke 109. Gaji guru di Malaysia jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Ini semua menuntut langkah cepat dan nyata: hentikan program MBG, tingkatkan mutu pendidikan, aktifkan kembali BPJS, turunkan pajak dan harga kebutuhan pokok, serta kembalikan POLRI dan TNI pada tugas utamanya.

Kita perlu keluar dari keanggotaan BOP dan kembali menjadikan Indonesia negara Non Blok, yang benar-benar mengedepankan kedamaian dan keadilan internasional. Penertiban dan penangkapan koruptor juga harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pidato dan pencitraan.

Jika Presiden Prabowo Subianto tidak melakukan perubahan besar ini, maka dia hanya akan dikenal sebagai “Jenderal Gembos”—pemimpin yang tak lagi memiliki kekuatan, wibawa, maupun kepercayaan dari rakyat, apalagi di mata dunia.

Waktunya bertindak nyata, bukan lagi kampanye atau pencitraan. Indonesia butuh pemimpin dengan kekuatan dan keberanian sejati.(Red)

24 Februari 2026
Saiful Huda Ems (SHE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *