Luwu-Suara Pendidikan.Id
Dunia pendidikan Indonesia mengalami transformasi besar dalam beberapa dekade terakhir. Jika dahulu sekolah identik dengan papan tulis kapur, buku tebal, serta guru yang menjadi satu-satunya sumber ilmu, kini wajah pendidikan berubah drastis dengan hadirnya teknologi digital, metode belajar interaktif, hingga akses informasi tanpa batas melalui internet.
Perbandingan ini menarik untuk ditelusuri, karena mencerminkan perubahan bukan hanya pada sistem belajar-mengajar, tetapi juga pada cara siswa dan guru berinteraksi, Sabtu (16/8/2025)
Di era 70–90-an, pendidikan berlangsung dalam suasana sederhana. Media pembelajaran terbatas pada papan tulis, kapur, buku paket, dan alat peraga seadanya. Guru memiliki posisi sentral sebagai sumber ilmu, sementara siswa lebih banyak berperan sebagai pendengar dan pencatat.
“Kalau dulu, murid-murid tidak punya pilihan selain rajin mencatat. Semua materi guru tulis di papan, dan itulah pegangan utama,” ujar Guru Umar, seorang pensiunan guru di Luwu.
Meski fasilitas minim, kedisiplinan dan rasa hormat terhadap guru menjadi budaya yang sangat dijunjung. Pendidikan karakter lebih menonjol, meskipun belum diformalkan dalam kurikulum.
Memasuki era 2000-an hingga kini, perkembangan teknologi merombak wajah pendidikan. Proses belajar tidak lagi hanya di kelas. Internet, gawai pintar, hingga platform digital seperti Learning Management System (LMS) dan aplikasi video conference memungkinkan siswa belajar dari mana saja.
“Sekarang anak-anak bisa belajar lewat video YouTube, simulasi interaktif, bahkan AI yang membantu mengerjakan soal. Ini kesempatan luar biasa, tapi juga tantangan bagi guru agar tidak kalah dengan teknologi,” kata beberapa pakar pendidikan di Makassar.
Di sisi lain, kebebasan ini juga menimbulkan masalah baru: distraksi digital, ketergantungan pada teknologi, hingga menurunnya interaksi tatap muka antara siswa dan guru.
Jika dahulu gaya belajar lebih menekankan hafalan dan disiplin, kini metode pembelajaran cenderung kolaboratif, kreatif, dan berbasis proyek (project-based learning). Siswa dituntut untuk berpikir kritis, bukan hanya menghafal.
Kurikulum Merdeka yang tengah diterapkan juga membuka ruang bagi siswa untuk memilih pelajaran sesuai minat dan bakat, sesuatu yang sulit dibayangkan di masa lalu.
Meskipun perkembangan ini membawa banyak kemajuan, pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di perkotaan, digitalisasi berjalan pesat, tetapi di pelosok seperti Latimojong, Sulawesi Selatan, akses internet dan fasilitas masih terbatas.
“Pendidikan kini jauh lebih modern, tapi jangan sampai meninggalkan daerah-daerah yang belum tersentuh teknologi. Jangan ada jurang yang makin lebar,”
Perjalanan pendidikan dari masa ke masa menunjukkan bahwa perubahan adalah hal yang niscaya. Dari papan tulis kapur hingga papan pintar, dari guru sebagai satu-satunya sumber ilmu hingga teknologi AI yang membantu belajar, dunia pendidikan Indonesia terus bergerak maju.
Namun, satu hal yang tetap harus dijaga adalah nilai kemanusiaan: peran guru sebagai pendidik sejati, bukan hanya pengajar. Sebab, teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan sentuhan hati seorang guru dalam mendidik generasi bangsa. (Red)
#Editor: Syarif Al Dhin#
Lewati ke konten
