Pangkep- Suara Pendidikan
Setelah bertahun-tahun menjalankan proses belajar dengan keterbatasan fasilitas, Sekolah Terbuka SMA Negeri 10 Pangkep kini bisa bernafas lega. Tahun ini, sekolah tersebut resmi memiliki gedung permanen sendiri sebanyak 13 unit ruang belajar, yang akan digunakan oleh 626 siswa reguler 201, Jadi jumlah keseluruhan siswa dan siswa 626 siswa Sekolah Terbuka melalui jalur PKBM.
Kepala SMA Negeri 10 Pangkep, Muhammad Imran, S.Pd., M.M., mengungkapkan rasa syukur atas capaian ini. Ia menyebut, pembangunan gedung tersebut menjadi penanda penting dalam perjalanan panjang sekolah terbuka yang dulunya berada di bawah bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK).dan Hal ini adalah motivasi Dari berbagai Sahabat dekatnya antara lain Kepala sekolah SMA 3 Pangkep Mashuri Ardsan.S.Ag.M.Pd berperan sebagai motor penggerak, mulai dari Penggunaan Lahan lokasi SMA 10.Ungkapnya Imran.
“Alhamdulillah, sekarang kita sudah punya rumah sendiri. Dulu program Sekolah Terbuka ini masih bergabung di PKLK, tapi sekarang sudah resmi masuk dalam bidang SMA. Jadi dapodiknya juga satu jalur dengan sekolah reguler,” ujar Imran saat ditemui di SMA Negeri 10 Pangkep, Labbakang.
Menurut Imran, pada masa awal berdirinya, sistem pembelajaran untuk Sekolah Terbuka dijalankan melalui kerja sama dengan beberapa PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Kala itu, seluruh kegiatan belajar dilakukan secara sederhana, dengan dukungan tutor dan guru kunjung.
Namun seiring waktu, kebijakan pemerintah mengarahkan sekolah terbuka untuk bernaung langsung di bawah bidang SMA. Sejak saat itu, pembelajaran dilakukan secara lebih terstruktur dan berbasis digital.
“Kalau dulu modelnya masih banyak dibantu tutor PKBM, sekarang sistemnya sudah berbeda. Kita punya dua pendekatan: guru kunjung dan pembelajaran daring (online). Guru datang dua atau tiga kali seminggu ke lokasi siswa, sementara untuk pembelajaran online, guru menyiapkan modul dan video yang bisa diakses lewat YouTube,” jelasnya.
Imran juga mengungkapkan bahwa sekolah kini telah menyiapkan ruang pembelajaran jarak jauh yang dilengkapi komputer dan jaringan internet. Selain itu, SMA 10 Pangkep baru saja mendapatkan bantuan smart TV untuk menunjang kegiatan belajar berbasis media digital.
“Smart TV itu akan digunakan untuk menayangkan materi ajar dan video pembelajaran. Selama ini kita sudah menggunakan sistem online seperti Zoom, tapi dengan bantuan baru ini, kualitas pembelajaran akan lebih baik,” kata Imran mantan kepala SMAN 14 di kepulauan.
Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, semangat siswa Sekolah Terbuka SMA 10 Pangkep tidak pernah padam. Salah satu bukti keberhasilannya, kata Imran, adalah keberhasilan alumninya yang kini telah lulus menjadi anggota TNI.
“Kita bangga, karena dari sekolah terbuka pun bisa lahir generasi yang berprestasi dan berkarakter. Itu membuktikan bahwa kesempatan pendidikan tetap terbuka bagi siapa pun,” ujarnya dengan bangga.
SMA Negeri 10 Pangkep saat ini didukung oleh 41 guru PPPK, 5 guru ASN, dan 6 guru honorer. Dua tenaga pendidik lainnya masih menunggu proses penempatan sebagai PPPK baru.
“Ketersediaan guru kita cukup memadai, dan semua memiliki komitmen kuat untuk melayani siswa dengan sistem reguler maupun terbuka,” tutur Imran saat di temui di ruang kerja Rabu 8/10/2025.
Dengan keberadaan gedung baru dan fasilitas pembelajaran digital, SMA Negeri 10 Pangkep kini siap menjadi sekolah percontohan di Kabupaten Pangkep dalam hal pendidikan inklusif, fleksibel, dan berbasis teknologi.
Kehadiran gedung baru dan fasilitas digital ini disambut hangat oleh masyarakat dan para orang tua siswa. Mereka menilai, langkah ini membuka peluang besar bagi anak-anak di daerah terpencil untuk melanjutkan pendidikan menengah tanpa harus terkendala jarak atau biaya.
Ungkap salah satu orang tua siswa dari Kelurahan Labbakang, menyampaikan rasa syukurnya.
“Dulu anak saya hampir putus sekolah karena tidak bisa ikut kelas reguler setiap hari. Tapi berkat sekolah terbuka, dia bisa tetap belajar sambil membantu orang tua. Sekarang dengan gedung baru, kami merasa anak-anak kami lebih dihargai,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memfasilitasi sekolah terbuka menjadi lebih mandiri.
“Kami berharap ini tidak berhenti sampai di sini. Pemerintah perlu terus mendukung sekolah seperti ini, karena banyak anak-anak di pelosok yang butuh akses pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau keluarga mereka,” ujarnya.
Para orang tua juga berharap agar pemerintah daerah terus memperhatikan kebutuhan guru dan sarana digital agar pembelajaran jarak jauh semakin efektif.
“Kami ingin anak-anak kami tidak tertinggal teknologi. Kalau bisa nanti sekolah terbuka juga punya laboratorium digital dan perpustakaan online,” ungkap salah satu wali murid lainnya.
Diakhir perbincangannya Imran kepada media ini bahwa:
menjelaskan bahwa data terbaru jumlah siswa SMAN 10 Pangkep sebanyak 626 orang dan itu sudah termasuk siswa SMA Terbuka dari enam tempat kegiatan belajar (TKB) sebanyak 201 orang.
Adapun siswa SMA Terbuka menyebar pada enam TKB yakni, TKB Labakkang, Doang-Doangan, Barang Caddi, Balocci, Minasate’ne dan Dewakang, bahkan ada siswa kami dari pedalaman Tator, paparnya.( Tim/Red)
Editor: Syarif Al Dhin.
Lewati ke konten
