Prof. Rias Rasyid Sebut Pemerintahan Jokowi “Terburuk dalam Sejarah Indonesia”, Dorong Prabowo Lakukan Reformasi Total

oleh -97 Dilihat
oleh

Jakarta – Suara pendidikan.

Seorang pakar birokrasi dan ilmu pemerintahan, Prof. Rias Rasyid, melontarkan kritik tajam terhadap periode kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Dalam pernyataannya yang beredar melalui Facebook, ia menyebut periode 10 tahun kepemimpinan Jokowi sebagai era kehancuran manajemen negara dan birokrasi yang paling parah sepanjang sejarah Indonesia.

Menurut Rias, di bawah kepemimpinan Jokowi, lembaga-lembaga negara mengalami kerusakan sistemik akibat intervensi politik yang masif. Ia menyoroti pola kepemimpinan yang disebutnya sebagai “penyanderaan” terhadap para pejabat dan pimpinan partai politik melalui kasus-kasus hukum yang dianggap sengaja disimpan untuk digunakan sebagai alat penekan.

Salah satu poin yang diangkat adalah isu dugaan ijazah palsu Jokowi yang menurutnya belum tuntas. Ia menyayangkan sikap institusi pendidikan seperti UGM dan kementerian terkait yang dianggap “mandul” dalam memberikan klarifikasi administratif yang tegas.

“Negeri ini tersandera oleh kerusakan yang ditimbulkan saat dia berkuasa. Persoalan sederhana seperti ijazah tidak bisa dituntaskan karena institusi penegak hukum kehilangan kepercayaan diri dan tersandera oleh orang-orang yang telah ‘ditanam’ Jokowi selama 10 tahun,” ujarnya.

Rias, juga menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari proyeksi politik Jokowi untuk mengamankan jaringan kekuasaan yang telah ada. Hal ini, menurutnya, terlihat dari susunan kabinet yang dianggap “amburadul” dan gemuk demi mengakomodasi kepentingan politik.

Ia menyebut adanya dilema “utang budi” yang membuat Prabowo sulit bertindak tegas terhadap peninggalan era sebelumnya. Riaas memperingatkan bahwa jika Prabowo tidak segera melakukan reformasi total—yang diusulkannya mencakup pergantian 80% anggota kabinet—maka pemerintahan saat ini hanya akan menjadi kelanjutan dari “era kegelapan” moralitas bangsa.

Dalam analisisnya, ia juga membahas posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan mengidentifikasi tiga kelompok besar yang kini berhadapan dengan kepemimpinan Prabowo:

1. Kelompok Cendekiawan yang mulai pesimistis terhadap arah bangsa.
2. Kelompok Loyalis Gibran yang dianggap sedang menunggu momentum untuk mengambil alih kekuasaan jika terjadi sesuatu pada Prabowo.
3. Kelompok Religius/Ideologis yang meyakini pemerintahan ini tidak berkah karena lahir dari proses pemilu yang dianggap curang.

“Gibran dikelilingi oleh jaringan yang dibangun Jokowi. Mereka menunggu bulan jatuh. Jika Prabowo tidak waspada dan tetap terjebak dalam retorika tanpa tindakan nyata, momentum politik bisa beralih kapan saja,” tambahnya.

Sebagai solusi, Riaas mendesak Prabowo untuk berhenti hanya berpidato dan mulai melakukan langkah drastis. Ia menyarankan agar Prabowo hanya mempertahankan sedikit orang kepercayaan yang kompeten, seperti Sjafrie Sjamsoeddin, dan membersihkan kabinet dari anasir-anasir oportunis peninggalan masa lalu.

“Kekuasaan harus membatasi kekuasaan. Jika keadilan dilembagakan secara tidak adil—di mana yang kuat dilindungi dan yang lemah dihukum—maka itu adalah awal dari kehancuran sebuah bangsa,” ujarnya.

(*) Sumber: Facebook

Catatan:

Isu yang disampaikan dalam rilis ini merupakan pandangan dan pendapat dari sumber yang disebutkan. Setiap pihak memiliki sudut pandang sendiri terkait perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia, sehingga diperlukan verifikasi lebih lanjut dari berbagai sumber yang kredibel untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif.( Redaksi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *